Senin, 20 Januari 2014

Kompetisi Cinta

Hari ini, setelah sekian lama, Olivia dan Tessa duduk kembali di cafe ini bersama-sama. Kali ini ada yang berbeda dan cukup menarik perhatian beberapa pelayan di cafe tersebut yang sudah sering melihat mereka di sana. Ya, tidak ada celotehan panjang dan tawa khas dua sahabat itu. Hari ini mereka duduk diam dengan pikiran masing-masing, seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
 "Maaf." satu kata pertama yang keluar dari mulut Olivia setelah sekian lama mereka duduk tanpa suara.
 Tessa buru-buru menampik pernyataan singkat itu. "Nggak, aku yang minta maaf."
 Keduanya kembali diam beberapa saat.
"Mungkin harusnya Evan memang tidak ada di antara kita, Tess."
Tessa tersenyum, ia mencoba menunjukkan senyum yang hangat untuk mencairkan suasana. Evan yang hadir di tengah persahabatan mereka tiga tahun yang lalu membawa cerita baru yang mewarnai persahabatan mereka. Dimulai dengan warna-warna cerah ketika masing-masing dari mereka menaruh hati pada Evan tanpa pernah berbagi cerita satu sama lain. Perlahan semuanya kelabu ketika Evan pada akhirnya memilih Olivia dan belakangan Olivia tahu bahwa Tessa menyimpan rasa pada Evan. Olivia merasa bersalah karena telah mematahkan hati sahabatnya.
"Aku nggak pernah merasa terbebani kok. Lagipula, ini masalah hati. Aku nggak bisa maksa Evan untuk jatuh cinta sama aku kalau memang kamu yang dia pilih." Tessa berusaha meyakinkan Olivia bahwa dirinya baik-baik saja tapi tetap saja sorot matanya masih menggambarkan bentuk hatinya yang hancur.
"Jangan bohong, Tess. Aku juga cewek dan kita udah sahabatan dari kecil. Aku tahu kamu kecewa dan aku nggak akan pernah bisa berhenti merasa bersalah. Waktu itu aku sama sekali nggak tahu kalau kamu juga jatuh cinta sama Evan. Seharusnya, aku bisa lebih peka, Tess."
Tessa menarik nafas panjang kemudian mendesah, "Liv, kalau kamu mau aku jujur, aku memang patah hati. Melihat orang yang dicintai bersama cewek lain itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi karena cewek itu adalah sahabatku sendiri." Tessa berhenti sejenak. Ada sedikit kelegaan yang ia rasakan setelah mengungkapkan itu. Olivia menunduk, semakin merasa bersalah. Butiran air mata jatuh di pipinya yang putih bersih seperti bayi. "Tapi aku nggak bisa memaksakan cinta, Liv. Evan jelas-jelas memilih kamu dan inilah kenyataannya. Kamu nggak perlu merasa terbebani dengan perasaanku."
"Tapi, Tess..."
"Nggak, Liv. Aku nggak akan berubah jadi cewek nggak tahu diri yang akan membenci kamu hanya karena Evan lebih milih kamu. Menurutku, semua ini nggak ada bedanya dengan kompetisi-kompetisi yang pernah kita ikuti. Kita pernah ikut kompetisi nyanyi dan aku yang menang. Kita pernah bersaing di lomba cerdas cermat di sekolah dan kamu yang menang. Itu karena kita punya kelebihan masing-masing. Dan sekarang, untuk kompetisi cinta ini, kamu pemenangnya dan aku harus lapang dada menerima kekalahan ini."
Olivia mengangkat wajahnya, menghapus air matanya, dan memberikan senyum tanda kelegaan. "Aku nggak pernah merasa menang dari kamu untuk masalah ini."
Tessa membalas senyuman Olivia "Kenyataannya, kamu memang pemenangnya, Liv. Evan adalah jurinya dan ia harus memilih satu pemenangnya."
"Aku pikir kamu bakal jauhin aku, Tess."
Tessa tertawa, "Lebay! Nggak akan kayak gitu, kok. Kita masih sahabat dan kamu nggak perlu khawatir."
"Janji?" Olivia mengangkat kelingkingnya.
"Janji! Pokoknya, nggak akan ada cowok mana pun yang bisa bikin persahabatan kita rusak." Tessa mengaitkan kelingkingnya tanda perjanjian.
Keduanya tertawa kemudian berpelukan.

Rabu, 21 Desember 2011

Terjebak

Aku melihatmu…
Kau berjalan ke arahku
Menawarkanku sebuah permainan
Aku menolak
Permainanmu sama sekali tidak menyenangkan
Kau terus meyakinkanku
Meyakinkanku bahwa permainan ini menyenangkan dan seperti sungguhan
Aku lihat dirimu…tampak meyakinkan…terlihat baik…
Aku memberanikan diri untuk bermain
Ternyata memang menyenangkan
Aku terus bermain
Bermain…dan bermain
Aku membiarkan diriku hanyut dalam permainanmu
Kini aku berada di puncak permainan
Aku mencarimu, meminta petunjuk selanjutnya
Tapi kau menghilang
Kau tak lagi memberikan petunjuk
Aku bingung
Bagaimana caranya aku menyelesaikan permainan ini?
Aku mencoba untuk menyelesaikannya sendiri
Mengandalkan diriku sendiri
 Aku berusaha berpikir jernih
Mungkin kau ingin aku mandiri dengan permainan ini
Aku terus berusaha
Tapi tidak bisa
Sekarang aku benar-benar tidak sanggup
Permainan ini mulai menyakitkan
Semakin hari permainan ini semakin mengacaukanku
Aku mulai rapuh
Perlahan-lahan menuju kehancuran
Aku tidak kuat lagi
Aku bingung
Bingung dengan permainan ini
“tolong bantu aku, bagaimana caranya menyelesaikan permainan ini?”
 Aku terus berseru
Berharap ada petunjuk darimu
Kau berdiri di ujung sana, diam
Aku kembali berseru, kali ini lebih keras
“tolong, berikan aku petunjuk untuk menyelesaikannya.”
Kau masih diam
Berkali-kali aku berseru
Kau tetap diam
Aku sakit
Aku di sini… tersesat…
Aku berjuang untuk keluar dari permainan ini
Kau masih tetap di sana dengan kebisuanmu
Kali ini aku bertanya, “mengapa harus aku?”
Masih diam…kau masih diam
Aku melihat sekelilingku, berharap akan ada yang menolongku
Tidak! Tidak ada siapa pun! Aku sendiri! Benar-benar SENDIRI!
Aku kembali melihatmu
Kali ini aku memohon…lepaskan aku.
Kau masih diam, ku lihat kau perlahan-lahan melangkahkan kaki
Tidak! Jangan pergi dulu! Bantu aku untuk menyelesaikan permainan ini
Kau terus berjalan…kau mengacuhkanku…
Aku benar-benar menderita… “tolonglah…lepaskan aku!”
Kau tak peduli, kau terus berjalan
Terus berjalan…semakin jauh…semakin jauh…dan menghilang
Aku masih di sini…
Aku menangis…
Bukan karena aku tak sanggup menyelesaikan permainan ini…
Tapi karena aku merasa bodoh!
Bodoh karena telah mempercayaimu!
Bodoh karena masuk dalam permainanmu!
Kini, aku harus berusaha sendiri…
Berusaha untuk keluar…
Keluar dari permainanmu…
Tanpa petunjukmu lagi…
Tanpa kau…

Desember

Desember.. Ini adalah bulan favoritku.. Bulan yang selalu membuatku jatuh cinta..

Aku suka hujan di bulan Desember. Hujan yang mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Cinta yang sangat dalam.

Aku suka tanggal 19 di bulan Desember. Tanggal di mana cintaku telah mencapai puncak tertinggi.

Aku suka berdiri di halte ini. Menikmati hujan setiap tanggal 19 di bulan Desember.

Jam sekolah sudah usai sejak 4 jam yang lalu. Dan seharusnya kami sudah tiba di rumah. Tapi kami masih betah di sini—di halte ini dengan seragam putih abu-abu. Hanya untuk menghabiskan menit-menit berharga sebelum berpisah.

"Seandainya aku bukan anak tunggal, mungkin aku akan memilih tinggal di sini." desahnya setelah beberapa jam kami duduk bersama tanpa suara.

"Sudahlah. Aku akan baik-baik saja."

"Kamu nggak sedih?"

Aku menunduk. Pertanyaan bodoh! "Aku sahabatmu sejak kecil jadi aku pasti akan sangat sedih. Tapi Bundamu lebih sedih lagi kalau harus jauh darimu."

Dia menghela nafas. "Aku janji akan sering-sering menelponmu. Aku janji akan kembali. Entah kapan—tidak bisa ku pastikan tapi aku pasti akan kembali untukmu soalnya aku nggak tahan kalau harus selamanya jauh dari kamu." katanya sambil mengacak-acak rambutku.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Ku angkat jari kelingkingku untuk memastikan, "Janji?"

"Janji!" Ia mengaitkan jari kelingkingnya. Ia tersenyum dan aku membalasnya. Pandangan kami bertemu di udara.

Aku suka moment itu. Moment yang sangat sederhana bagi orang lain bahkan mungkin tidak berarti tapi mampu membuat hatiku tersenyum setiap kali mengingatnya. Moment yang membuatku merasa seperti jatuh cinta pertama kali. Semuanya tergambar jelas di bulan Desember—hanya di bulan Desember.

Masa putih abu-abu sudah lama berlalu. Tapi kenangan itu masih jelas dalam pikiranku. Aku masih menunggunya. Menunggu janjinya di halte itu, saat hujan tanggal 19 di bulan Desember. Dan saat ia kembali, aku akan mengatakan padanya bahwa aku pernah mencintainya di bulan Desember. Sejak Desember itu sampai hari ini.

Desember... :)