Desember.. Ini adalah bulan favoritku.. Bulan yang selalu membuatku jatuh cinta..
Aku suka hujan di bulan Desember. Hujan yang mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Cinta yang sangat dalam.
Aku suka tanggal 19 di bulan Desember. Tanggal di mana cintaku telah mencapai puncak tertinggi.
Aku suka berdiri di halte ini. Menikmati hujan setiap tanggal 19 di bulan Desember.
Jam sekolah sudah usai sejak 4 jam yang lalu. Dan seharusnya kami sudah tiba di rumah. Tapi kami masih betah di sini—di halte ini dengan seragam putih abu-abu. Hanya untuk menghabiskan menit-menit berharga sebelum berpisah.
"Seandainya aku bukan anak tunggal, mungkin aku akan memilih tinggal di sini." desahnya setelah beberapa jam kami duduk bersama tanpa suara.
"Sudahlah. Aku akan baik-baik saja."
"Kamu nggak sedih?"
Aku menunduk. Pertanyaan bodoh! "Aku sahabatmu sejak kecil jadi aku pasti akan sangat sedih. Tapi Bundamu lebih sedih lagi kalau harus jauh darimu."
Dia menghela nafas. "Aku janji akan sering-sering menelponmu. Aku janji akan kembali. Entah kapan—tidak bisa ku pastikan tapi aku pasti akan kembali untukmu soalnya aku nggak tahan kalau harus selamanya jauh dari kamu." katanya sambil mengacak-acak rambutku.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Ku angkat jari kelingkingku untuk memastikan, "Janji?"
"Janji!" Ia mengaitkan jari kelingkingnya. Ia tersenyum dan aku membalasnya. Pandangan kami bertemu di udara.
Aku suka moment itu. Moment yang sangat sederhana bagi orang lain bahkan mungkin tidak berarti tapi mampu membuat hatiku tersenyum setiap kali mengingatnya. Moment yang membuatku merasa seperti jatuh cinta pertama kali. Semuanya tergambar jelas di bulan Desember—hanya di bulan Desember.
Masa putih abu-abu sudah lama berlalu. Tapi kenangan itu masih jelas dalam pikiranku. Aku masih menunggunya. Menunggu janjinya di halte itu, saat hujan tanggal 19 di bulan Desember. Dan saat ia kembali, aku akan mengatakan padanya bahwa aku pernah mencintainya di bulan Desember. Sejak Desember itu sampai hari ini.
Desember... :)
Aku suka hujan di bulan Desember. Hujan yang mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Cinta yang sangat dalam.
Aku suka tanggal 19 di bulan Desember. Tanggal di mana cintaku telah mencapai puncak tertinggi.
Aku suka berdiri di halte ini. Menikmati hujan setiap tanggal 19 di bulan Desember.
Jam sekolah sudah usai sejak 4 jam yang lalu. Dan seharusnya kami sudah tiba di rumah. Tapi kami masih betah di sini—di halte ini dengan seragam putih abu-abu. Hanya untuk menghabiskan menit-menit berharga sebelum berpisah.
"Seandainya aku bukan anak tunggal, mungkin aku akan memilih tinggal di sini." desahnya setelah beberapa jam kami duduk bersama tanpa suara.
"Sudahlah. Aku akan baik-baik saja."
"Kamu nggak sedih?"
Aku menunduk. Pertanyaan bodoh! "Aku sahabatmu sejak kecil jadi aku pasti akan sangat sedih. Tapi Bundamu lebih sedih lagi kalau harus jauh darimu."
Dia menghela nafas. "Aku janji akan sering-sering menelponmu. Aku janji akan kembali. Entah kapan—tidak bisa ku pastikan tapi aku pasti akan kembali untukmu soalnya aku nggak tahan kalau harus selamanya jauh dari kamu." katanya sambil mengacak-acak rambutku.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Ku angkat jari kelingkingku untuk memastikan, "Janji?"
"Janji!" Ia mengaitkan jari kelingkingnya. Ia tersenyum dan aku membalasnya. Pandangan kami bertemu di udara.
Aku suka moment itu. Moment yang sangat sederhana bagi orang lain bahkan mungkin tidak berarti tapi mampu membuat hatiku tersenyum setiap kali mengingatnya. Moment yang membuatku merasa seperti jatuh cinta pertama kali. Semuanya tergambar jelas di bulan Desember—hanya di bulan Desember.
Masa putih abu-abu sudah lama berlalu. Tapi kenangan itu masih jelas dalam pikiranku. Aku masih menunggunya. Menunggu janjinya di halte itu, saat hujan tanggal 19 di bulan Desember. Dan saat ia kembali, aku akan mengatakan padanya bahwa aku pernah mencintainya di bulan Desember. Sejak Desember itu sampai hari ini.
Desember... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar