Rabu, 21 Desember 2011

Terjebak

Aku melihatmu…
Kau berjalan ke arahku
Menawarkanku sebuah permainan
Aku menolak
Permainanmu sama sekali tidak menyenangkan
Kau terus meyakinkanku
Meyakinkanku bahwa permainan ini menyenangkan dan seperti sungguhan
Aku lihat dirimu…tampak meyakinkan…terlihat baik…
Aku memberanikan diri untuk bermain
Ternyata memang menyenangkan
Aku terus bermain
Bermain…dan bermain
Aku membiarkan diriku hanyut dalam permainanmu
Kini aku berada di puncak permainan
Aku mencarimu, meminta petunjuk selanjutnya
Tapi kau menghilang
Kau tak lagi memberikan petunjuk
Aku bingung
Bagaimana caranya aku menyelesaikan permainan ini?
Aku mencoba untuk menyelesaikannya sendiri
Mengandalkan diriku sendiri
 Aku berusaha berpikir jernih
Mungkin kau ingin aku mandiri dengan permainan ini
Aku terus berusaha
Tapi tidak bisa
Sekarang aku benar-benar tidak sanggup
Permainan ini mulai menyakitkan
Semakin hari permainan ini semakin mengacaukanku
Aku mulai rapuh
Perlahan-lahan menuju kehancuran
Aku tidak kuat lagi
Aku bingung
Bingung dengan permainan ini
“tolong bantu aku, bagaimana caranya menyelesaikan permainan ini?”
 Aku terus berseru
Berharap ada petunjuk darimu
Kau berdiri di ujung sana, diam
Aku kembali berseru, kali ini lebih keras
“tolong, berikan aku petunjuk untuk menyelesaikannya.”
Kau masih diam
Berkali-kali aku berseru
Kau tetap diam
Aku sakit
Aku di sini… tersesat…
Aku berjuang untuk keluar dari permainan ini
Kau masih tetap di sana dengan kebisuanmu
Kali ini aku bertanya, “mengapa harus aku?”
Masih diam…kau masih diam
Aku melihat sekelilingku, berharap akan ada yang menolongku
Tidak! Tidak ada siapa pun! Aku sendiri! Benar-benar SENDIRI!
Aku kembali melihatmu
Kali ini aku memohon…lepaskan aku.
Kau masih diam, ku lihat kau perlahan-lahan melangkahkan kaki
Tidak! Jangan pergi dulu! Bantu aku untuk menyelesaikan permainan ini
Kau terus berjalan…kau mengacuhkanku…
Aku benar-benar menderita… “tolonglah…lepaskan aku!”
Kau tak peduli, kau terus berjalan
Terus berjalan…semakin jauh…semakin jauh…dan menghilang
Aku masih di sini…
Aku menangis…
Bukan karena aku tak sanggup menyelesaikan permainan ini…
Tapi karena aku merasa bodoh!
Bodoh karena telah mempercayaimu!
Bodoh karena masuk dalam permainanmu!
Kini, aku harus berusaha sendiri…
Berusaha untuk keluar…
Keluar dari permainanmu…
Tanpa petunjukmu lagi…
Tanpa kau…

Desember

Desember.. Ini adalah bulan favoritku.. Bulan yang selalu membuatku jatuh cinta..

Aku suka hujan di bulan Desember. Hujan yang mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Cinta yang sangat dalam.

Aku suka tanggal 19 di bulan Desember. Tanggal di mana cintaku telah mencapai puncak tertinggi.

Aku suka berdiri di halte ini. Menikmati hujan setiap tanggal 19 di bulan Desember.

Jam sekolah sudah usai sejak 4 jam yang lalu. Dan seharusnya kami sudah tiba di rumah. Tapi kami masih betah di sini—di halte ini dengan seragam putih abu-abu. Hanya untuk menghabiskan menit-menit berharga sebelum berpisah.

"Seandainya aku bukan anak tunggal, mungkin aku akan memilih tinggal di sini." desahnya setelah beberapa jam kami duduk bersama tanpa suara.

"Sudahlah. Aku akan baik-baik saja."

"Kamu nggak sedih?"

Aku menunduk. Pertanyaan bodoh! "Aku sahabatmu sejak kecil jadi aku pasti akan sangat sedih. Tapi Bundamu lebih sedih lagi kalau harus jauh darimu."

Dia menghela nafas. "Aku janji akan sering-sering menelponmu. Aku janji akan kembali. Entah kapan—tidak bisa ku pastikan tapi aku pasti akan kembali untukmu soalnya aku nggak tahan kalau harus selamanya jauh dari kamu." katanya sambil mengacak-acak rambutku.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Ku angkat jari kelingkingku untuk memastikan, "Janji?"

"Janji!" Ia mengaitkan jari kelingkingnya. Ia tersenyum dan aku membalasnya. Pandangan kami bertemu di udara.

Aku suka moment itu. Moment yang sangat sederhana bagi orang lain bahkan mungkin tidak berarti tapi mampu membuat hatiku tersenyum setiap kali mengingatnya. Moment yang membuatku merasa seperti jatuh cinta pertama kali. Semuanya tergambar jelas di bulan Desember—hanya di bulan Desember.

Masa putih abu-abu sudah lama berlalu. Tapi kenangan itu masih jelas dalam pikiranku. Aku masih menunggunya. Menunggu janjinya di halte itu, saat hujan tanggal 19 di bulan Desember. Dan saat ia kembali, aku akan mengatakan padanya bahwa aku pernah mencintainya di bulan Desember. Sejak Desember itu sampai hari ini.

Desember... :)