Kompetisi Cinta
Hari ini, setelah sekian lama, Olivia dan Tessa duduk kembali di cafe ini bersama-sama. Kali ini ada yang berbeda dan cukup menarik perhatian beberapa pelayan di cafe tersebut yang sudah sering melihat mereka di sana. Ya, tidak ada celotehan panjang dan tawa khas dua sahabat itu. Hari ini mereka duduk diam dengan pikiran masing-masing, seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
"Maaf." satu kata pertama yang keluar dari mulut Olivia setelah sekian lama mereka duduk tanpa suara.
Tessa buru-buru menampik pernyataan singkat itu. "Nggak, aku yang minta maaf."
Keduanya kembali diam beberapa saat.
"Mungkin harusnya Evan memang tidak ada di antara kita, Tess."
Tessa tersenyum, ia mencoba menunjukkan senyum yang hangat untuk mencairkan suasana. Evan yang hadir di tengah persahabatan mereka tiga tahun yang lalu membawa cerita baru yang mewarnai persahabatan mereka. Dimulai dengan warna-warna cerah ketika masing-masing dari mereka menaruh hati pada Evan tanpa pernah berbagi cerita satu sama lain. Perlahan semuanya kelabu ketika Evan pada akhirnya memilih Olivia dan belakangan Olivia tahu bahwa Tessa menyimpan rasa pada Evan. Olivia merasa bersalah karena telah mematahkan hati sahabatnya.
"Aku nggak pernah merasa terbebani kok. Lagipula, ini masalah hati. Aku nggak bisa maksa Evan untuk jatuh cinta sama aku kalau memang kamu yang dia pilih." Tessa berusaha meyakinkan Olivia bahwa dirinya baik-baik saja tapi tetap saja sorot matanya masih menggambarkan bentuk hatinya yang hancur.
"Jangan bohong, Tess. Aku juga cewek dan kita udah sahabatan dari kecil. Aku tahu kamu kecewa dan aku nggak akan pernah bisa berhenti merasa bersalah. Waktu itu aku sama sekali nggak tahu kalau kamu juga jatuh cinta sama Evan. Seharusnya, aku bisa lebih peka, Tess."
Tessa menarik nafas panjang kemudian mendesah, "Liv, kalau kamu mau aku jujur, aku memang patah hati. Melihat orang yang dicintai bersama cewek lain itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi karena cewek itu adalah sahabatku sendiri." Tessa berhenti sejenak. Ada sedikit kelegaan yang ia rasakan setelah mengungkapkan itu. Olivia menunduk, semakin merasa bersalah. Butiran air mata jatuh di pipinya yang putih bersih seperti bayi. "Tapi aku nggak bisa memaksakan cinta, Liv. Evan jelas-jelas memilih kamu dan inilah kenyataannya. Kamu nggak perlu merasa terbebani dengan perasaanku."
"Tapi, Tess..."
"Nggak, Liv. Aku nggak akan berubah jadi cewek nggak tahu diri yang akan membenci kamu hanya karena Evan lebih milih kamu. Menurutku, semua ini nggak ada bedanya dengan kompetisi-kompetisi yang pernah kita ikuti. Kita pernah ikut kompetisi nyanyi dan aku yang menang. Kita pernah bersaing di lomba cerdas cermat di sekolah dan kamu yang menang. Itu karena kita punya kelebihan masing-masing. Dan sekarang, untuk kompetisi cinta ini, kamu pemenangnya dan aku harus lapang dada menerima kekalahan ini."
Olivia mengangkat wajahnya, menghapus air matanya, dan memberikan senyum tanda kelegaan. "Aku nggak pernah merasa menang dari kamu untuk masalah ini."
Tessa membalas senyuman Olivia "Kenyataannya, kamu memang pemenangnya, Liv. Evan adalah jurinya dan ia harus memilih satu pemenangnya."
"Aku pikir kamu bakal jauhin aku, Tess."
Tessa tertawa, "Lebay! Nggak akan kayak gitu, kok. Kita masih sahabat dan kamu nggak perlu khawatir."
"Janji?" Olivia mengangkat kelingkingnya.
"Janji! Pokoknya, nggak akan ada cowok mana pun yang bisa bikin persahabatan kita rusak." Tessa mengaitkan kelingkingnya tanda perjanjian.
Keduanya tertawa kemudian berpelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar